Pelepasan Kajari Muara Enim, Zulfahmi: “Yang Penting Jangan Korupsi, Gambar Ada, Spek Ada”

Lapotan Hafiz

Muaraenim News, MUARAENIM — Suasana haru dan penuh kehangatan menyelimuti acara pelepasan Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Muara Enim, Zulfahmi, SH, MH, yang akan melanjutkan tugas barunya sebagai Asisten Perdata dan Tata Usaha Negara (Asdatun) Kejaksaan Tinggi Bengkulu. Jabatan Kajari Muara Enim selanjutnya diemban oleh Gunawan Wisnu Nurdianto, SH, MH, yang sebelumnya menjabat Kajari Buton. Acara ini dilaksanakan di Balai Agung Serasan Sekundang (BASS) Rumah dinas Bupati Muara Enim, Kamis (8/1/2026).

Dalam sambutannya, Zulfahmi menyampaikan kesan mendalam selama bertugas di Bumi Serasan Sekundang. Ia menggambarkan Muara Enim sebagai daerah yang aman, tenang, dan memiliki potensi alam luar biasa yang harus dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

“Walaupun ini bukan kampung halaman saya, sejak pertama masuk saya punya cita-cita bagaimana alam di sini bisa dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat. Tugas kami di kejaksaan adalah melakukan pendampingan dan pengawasan, baik kepada rekanan, BPK, maupun para kepala dinas. Pesan saya sederhana: yang penting jangan korupsi. Kalau gambar ada, spesifikasi ada, kontrak ada, ya laksanakan sesuai aturan,” ujar Zulfahmi dengan gaya lugas khasnya.

Ia mengakui, maraknya perkara korupsi sering menimbulkan kekhawatiran di kalangan pejabat pelaksana kegiatan. Namun menurutnya, selama semua pekerjaan dijalankan sesuai ketentuan dan aturan hukum, tidak ada yang perlu ditakutkan.

Di akhir sambutan, Zulfahmi menyampaikan terima kasih kepada Forkopimda, para kepala OPD, dan seluruh masyarakat Muara Enim atas dukungan dan kebersamaan selama ia bertugas.

“Kejaksaan tidak mengenal istilah tugas jangka pendek atau jangka panjang. Kapan pun dibutuhkan, kita harus siap. Penugasan ini mungkin terasa mendadak, tapi saya yakin selalu ada hikmah di balik setiap ketetapan,” ucapnya dengan nada haru.

Sementara itu, Bupati Muara Enim, H. Edison, SH, M.Hum, dalam sambutannya mengajak seluruh hadirin untuk bersama-sama melepas dan menyambut pimpinan kejaksaan dengan lapang dada. Ia menyebut Zulfahmi sebagai sosok pemimpin yang lugas, sederhana, namun sarat makna dalam bertutur.

“Gaya bahasa beliau ini unik, lugas, singkat, ada sentuhan Medan dan Melayu. Tapi justru itu yang membuat pesan-pesannya mudah dipahami,” kata Edison.

Bupati juga mengungkapkan hubungan emosional yang terjalin dengan Zulfahmi, tak hanya secara kedinasan, tetapi juga latar belakang akademik yang sama-sama berasal dari Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (USU). Bahkan, ia mengenang almarhum ayah Zulfahmi yang dikenal sebagai sosok langka dan ahli dalam membaca dokumen Arab Melayu kuno, khususnya terkait surat-surat tanah dan arsip Kesultanan Deli.

“Beliau itu orang yang sangat kami hormati. Keahliannya membaca Arab Melayu, surat-surat lama, hingga dokumen Kesultanan benar-benar luar biasa. Itu kenangan yang tidak akan kami lupakan,” tuturnya.

Acara pelepasan tersebut bukan sekadar seremonial, tetapi menjadi ruang perpisahan yang sarat nilai kekeluargaan, refleksi pengabdian, serta harapan agar sinergi antara pemerintah daerah dan aparat penegak hukum di Muara Enim terus terjaga, di bawah kepemimpinan Kajari yang baru.

Show More