Muara Enim dan Jejak Hijau dari Sekolah: Sebuah Feature tentang Kabupaten yang Mendominasi Adiwiyata 2025

Ditulis Oleh Hafizul Ahkam
Muaraenimnews.com, MUARAENIM – Di balik gedung-gedung sekolah di Muara Enim, ada denyut kerja sunyi yang mungkin tak terlihat—siswa yang merawat tanaman sebelum bel masuk, guru yang menenteng komposter sederhana, hingga kepala sekolah yang setiap pagi memastikan langkah kecil menuju sekolah hijau tetap berjalan. Dari kesunyian itulah sebuah kabar besar lahir: Muara Enim menjadi salah satu daerah yang paling mendominasi perolehan Penghargaan Adiwiyata Nasional dan Mandiri Tahun 2025.
Kabar ini disampaikan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Muara Enim, Drs. H. Rusdi Khairullah, M.Si, Jumat (12/12/2025). Ia tak menutupi rasa bangganya, sebab penghargaan ini bukan sekadar simbol, melainkan penanda perubahan budaya di sekolah.
“Ini buah kerja keras semua pihak. Dari guru, siswa, orang tua, hingga pemerintah daerah. Muara Enim membuktikan bahwa pendidikan lingkungan hidup bisa tumbuh kuat dari akar,” ucapnya.
Langkah Kecil yang Menggema Besar
Untuk mencapai panggung nasional, ada perjalanan panjang yang ditempuh sekolah-sekolah itu. Dari tingkat desa hingga kota kecamatan, mereka melewati serangkaian penilaian ketat sebagai Calon Sekolah Adiwiyata Mandiri (CSAM) dan Calon Sekolah Adiwiyata Nasional (CSAN).
Pengumpulan bukti dokumentasi, pembiasaan perilaku ramah lingkungan, hingga inovasi—semua dilakukan dengan tangan sendiri. Tak jarang, guru bersama siswa harus menghabiskan sore lebih lama hanya untuk memastikan taman sekolah rapi, membuat lubang biopori, atau menyelesaikan laporan administratif yang tebalnya tak main-main.
Dan usaha itu terbayar.
258 Sekolah Mandiri, 721 Nasional — Muara Enim Ikut Berdiri di Barisan Depan
Kementerian Lingkungan Hidup melalui dua keputusan resmi—Nomor 2923 Tahun 2025 untuk Sekolah Adiwiyata Mandiri dan Nomor 2920 Tahun 2025 untuk Sekolah Adiwiyata Nasional—menetapkan total 979 sekolah penerima. Di dalam deretan itu, nama-nama sekolah dari Muara Enim tercatat dengan bangga.
Selain jumlahnya yang banyak, prestasi ini juga selaras dengan visi daerah melalui program Bupati, Muara Enim Bangkit, Rakyat Sejahtera (Membara). Pendidikan lingkungan bukan hanya program, tetapi menjadi budaya yang tumbuh di banyak sekolah.
Puncak Kebahagiaan di TMII
Rabu, 10 Desember 2025, Gedung Sasono Utomo—Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta—menjadi saksi bagaimana sekolah-sekolah Muara Enim menerima penghargaan mereka. Suasana penuh haru terasa ketika perwakilan sekolah maju satu per satu ke panggung.
Ada kepala sekolah yang menahan air mata, ada siswa yang memegangi piala sambil sesekali melirik gurunya, seolah ingin mengatakan: “Kita berhasil.”
Bagi sebagian sekolah, ini adalah penghargaan pertama. Bagi yang lain, gelar Mandiri menjadi puncak dari perjalanan panjang bertahun-tahun.
Lebih dari Sekadar Penghargaan
Adiwiyata bukan hanya soal taman yang hijau atau gedung yang bersih. Di Muara Enim, gerakan ini telah menjadi pola pikir: bagaimana sampah dipilah, bagaimana air dihemat, bagaimana lingkungan di sekitar sekolah menjadi ruang belajar alami.
“Kami ingin anak-anak tumbuh dengan karakter peduli lingkungan. Inilah investasi masa depan,” tambah Rusdi Khairullah.
Jejak Hijau Itu Akan Terus Bertambah
Prestasi ini bukan akhir perjalanan, melainkan awal dari cerita panjang menuju Kabupaten yang sepenuhnya berbudaya lingkungan. Di banyak sekolah, suara langkah siswa yang membawa pot kecil, botol daur ulang, atau sekop mini di halaman—adalah pertanda bahwa semangat itu masih menyala.
Muara Enim telah mengirim pesan ke Indonesia:
Bila kepedulian dirawat, lingkungan akan tumbuh bersama generasi berikutnya.




