Menutup 2025: Refleksi 10 Bulan Kepemimpinan Burza–Widya, Antara Kerja Nyata dan Harapan Lahat ke Depan

Laporan Hafiz
Muaraenimn News, LAHAT —
Tahun 2025 perlahan menutup lembarannya. Di penghujung tahun ini, Kabupaten Lahat tidak hanya menghitung hari yang berlalu, tetapi juga menimbang arah perjalanan daerah sejak kepemimpinan baru dimulai. Tepat sepuluh bulan lalu, pada 20 Februari 2025, Burza Zarnubi dan Widia Ningsih resmi mengemban amanah sebagai Bupati dan Wakil Bupati Lahat.
Sepuluh bulan bukan waktu yang panjang dalam perjalanan sebuah daerah. Namun cukup untuk membaca karakter kepemimpinan, mengukur keseriusan, dan merasakan denyut perubahan yang mulai tumbuh di tengah masyarakat.
Burza–Widya datang dengan visi besar: masyarakat Lahat yang berakhlak, mandiri, berkeadilan, makmur, dan sejahtera. Visi yang saat kampanye kerap dipertanyakan, kini mulai menemukan bentuknya dalam kerja-kerja nyata, meski belum sempurna.
Di akhir tahun ini, jejak kepemimpinan itu terlihat dari ruang-ruang publik yang kembali hidup. Taman Rekreasi Ribang Kemambang yang dulu sepi dan tak terawat, kini perlahan menjadi tempat warga melepas penat, anak-anak bermain, dan keluarga berkumpul. Revitalisasi Plaza Lematang yang sedang berjalan—menuju Mall Pelayanan Publik terintegrasi dengan jogging track di Tepian Ayek Lematang—bukan sekadar proyek fisik, melainkan simbol perubahan cara pandang: pelayanan publik harus dekat, terbuka, dan manusiawi.
Namun refleksi kepemimpinan Burza–Widya tak berhenti pada bangunan dan infrastruktur.
Di balik angka dan laporan, ada kisah anak-anak Lahat yang kini berani bermimpi lebih tinggi. Program beasiswa “Anak Lahat Jadi Sarjana” membuka jalan bagi ratusan generasi muda untuk mengenyam pendidikan tinggi. Beberapa bahkan mencatat prestasi di tingkat nasional—prestasi yang lahir dari kesempatan, bukan kebetulan.
Di sektor ekonomi rakyat, UMKM mulai merasakan kehadiran pemerintah. Bantuan dan dukungan yang diberikan memang belum menyentuh semua, namun cukup untuk menggerakkan roda ekonomi kecil yang selama ini menjadi penopang utama masyarakat.
Menariknya, di tengah berbagai capaian tersebut, Burza dan Widya tidak larut dalam euforia. Keduanya justru kerap menyampaikan bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang belum terselesaikan. Mulai dari pemerataan pembangunan desa, peningkatan kualitas pelayanan publik, hingga penguatan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan, hal ini disampaikannya di cela cela memantau Pos Pelayanan Nataru di Pos Citymol Rabu (31/12/2025) malam.
Sikap merendah ini menjadi catatan penting di akhir tahun. Di saat banyak pemimpin gemar mengklaim keberhasilan, Burza–Widya memilih mengakui keterbatasan waktu dan tantangan yang ada. Sebuah sikap yang menandakan bahwa kepemimpinan bukan soal pencitraan, melainkan proses panjang yang menuntut konsistensi.
Tahun 2025 pun ditutup dengan satu kesimpulan sederhana: Lahat sedang bergerak. Belum berlari kencang, belum pula sampai tujuan akhir. Namun arah sudah ditentukan, fondasi mulai diletakkan, dan harapan kembali menyala di tengah masyarakat.
Tahun 2026 akan menjadi ujian berikutnya. Apakah kerja-kerja awal ini mampu dijaga, diperluas, dan dirasakan lebih merata? Waktu yang akan menjawab. Namun refleksi akhir tahun ini mencatat satu hal penting—sepuluh bulan pertama Burza–Widya telah memberi alasan bagi masyarakat Lahat untuk berharap.







