Beranda PANANG ENIM Lubuk Nipis Menyimpan Adat Sejuta Arti

Lubuk Nipis Menyimpan Adat Sejuta Arti

104
0

Laporan Yongki

Muaraenim News, PANANGENIM Anda tahu acara adat “Nenurow” yang sudah lama tidak kita jumpai, bahkan acara ini hampir punah dan sangat langka, acara ini hanya ada satu-satunya di kecamatan Panangenim bahkan mungkin satu-satunya di kabupaten Muaraenim.

Desa Lubuk Nipis ialah desa yang masih melestarikan acara ini, nenurow adalah acara pemadaman sumpah bujang gadis, dimana dilaksanakan pada acara pernikahan, yang juga diiringi oleh tembang khas nenurow.

Ada 3 tahap pelaksanaan nenurow :
1. Nenurow sebelum dilaksanakannya akad nikah, ini berarti penyambutan kepada kedua pengantin.
2. Nenurow didalam acara resepsi pernikahan (semestinya dilaksanakan di depan rumah / sebelum naik tangga rumah, setelah selesai acara, namun karena keadaan, ini dilakukan didalam acara resepsi saja), yang artinya memadamkan sumpah bujang gadis.
3. Suap-suapan dan do’a, ini berarti menyatukan kedua pengantin dan mendoakan agar mendapat keturunan, terhindar dari balak serta murah rezeki.
Sambil menembang petugas nenurow juga menghamburkan beras dan jagung, mengayunkan ayam, serta terakhir membakar kulit ari bambu kemudian dipadamkan oleh petugas, maka padamlah sumpah bujang gadis.
Menurut cerita Suliah (100) salah satu penerus pertama nenurow mengatakan, dahulu sekitar tahun 1945 ada warga desa Lubuk Nipis yang ingin menikahkan anaknya dengan adat asli Lubuk Nipis, dan menemui dia.
Awalnya belum tahu bagaimana cara melaksanakan adat nenurow ini, sehingga dirinya bersama salah satu temannya belajar dan mendalami tata cara pelaksanaan nenurow ini.
Hingga pada akhirnya dan hingga kini setiap ada acara pernikahan di desa Lubuk Nipis acara adat ini terus dilaksanakan.
“Sekarang ini telah kami turunkan kepada anak cucu, agar acara ini tetap lestari,” kata Suliah kepada wartawan rabu (24/7/2019).
Suliah (100) salah satu penerus pertama acara adat Nenurow
Sementara Kepala Desa Lubuk Nipis Dunsri mengatakan, acara ini adalah acara adat warisan dari nenek moyang terdahulu yang memang sudah cukup lama dan bahkan sudah langka, namun desa kami tetap mempertahankannya.
Kami anggap acara adat ini merupakan kekayaan yang ada di desa kami. Berharap agar tetap lestari dan dapat diwariskan kepada anak cucu menerus sekarang ini.
“Kami tetap akan mempertahankan acara adat ini, dan akan tetap kami lestarikan,” tutupnya.