BerandaPendidikanLarangan Meratapi Mayit

Larangan Meratapi Mayit

254
0

Oleh : H. Albar S Subari, SH. SU. ( Ketua Pembina Adat Sumatera Selatan ) & Marsal ( Penghulu KUA Kecamatan Muara Enim )

Rasulullah bersabda: meratap adalah salah satu perbuatan jahiliah (ibnu Majah).

Sesungguhnya wanita tukang ratap apabila tidak tobat, maka Allah membuatkan baju baginya dari balangkin dan kerudung dari nyala api.

Berkata ibnu Hajar: maka haram menyebut nyebut kebaikan mayit dengan suara keras, dan juga menangis dengan suara keras, meskipun tanpa menyebut nyebut kebaikan mayit.

Juga diharamkan meratap sambil menampar pipi dan merobek baju, menguraikan rambut dan mencukur serta mencabut nya.

Nabi saw bersabda: barangsiapa meratapi mayit sambil menyebut kebaikan nya, maka ia adalah musuh Allah dan para malaikat serta manusia seluruhnya. Selanjutnya Rasulullah bersabda: wanita tukang ratap di hari kiamat menggonggong seperti gonggongan anjing.

Nabi bersabda Pada hari kiamat tukang ratap akan datang dengan rambut kusut berdebu memakau jilbab dari api. Ia letakkan tangannya di atas kepalanya seraya berkata Aduhai celaka aku. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Malik dan Muslim ” apabila wanita tukang ratap tidak bertobat sebelum kematiannya, maka di hari kiamat badannya penuh belangkin dan kudis.

Di dalam khabar Syaikin dari Umar ibn al Khatab: sesungguhnya mayit itu disiksa karena tangisan (ratapan) orang hidup.

Hal itu terjadi bila ia mewasiatkan kepada mereka meratapinya sebagaimana adat jahiliah. Seperti perkataan Thariah kepada istrinya : Bika aku mati, sebutlah kebaikan ku yang pantas bagiku dan robeklah baju bagiku, hai binti Na’bad. (bukti bagi kita perkataan orang jahiah dahulu sepertinya dibuat satu wasiat. Ini yg terlarang dalam kontek tulisan ini. Siapa meratap saat musibah datang dia tercatat sebagai orang munafik.

Berkata para sahabat kami dan lainnya : sangat dianjurkan bagi siapa yang mengalami musibah kematian seseorang atau dirinya atau isterinya atau hartanya, mesku ringan, agar memperbanyak ucapan ” Innaa lillahi wa innaa illaihi raajiuun, berilah aku pahala dalam musibahku dan gantilah aku yang lebih baik daripada itu. Demikian juga diriwayatkan oleh Muslim. Karena Allah menjanjikan siapa mengucapkan itu mereka mendapatkan keberkahan dan rahmad dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang orang mengikuti petunjuk.

Nabi Bersabda : dua suara yang terkutuk di dunia dan akhirat, yaitu seruling di waktu mendapatkan kesenangan dan jeritan dikala mendapatkan musibah ( HR. Al-Bazzar dari Anas dengan sanad sahih).

Dalam riwayat Nasa’iy dari Abi Musa Al-Kitab Asy’ari dsngan sanad sahih: tidaklah termasuk pengikut sunnah kami siapa yang menjerit dan mencukur rambut serta merobek baju (dikala mendapatkan musibah)

Bukanlah termasuk golongan kami siapa yang menampar pipi Dan merobek kerah baju serta berseru dengan seruan jahiliah (HR. Ahmad, Syaikhain, Tirmudzi, Nasa’i dan ibnu Majah dari ibnu Mas’ud.

Bukan lah dimaksudkan hadits ini, bahwa pelakunya keluar dari agama, tetapi sebagai peringatan keras agar tidak berbuat seperti itu. Ada yang mengartikan bahwa yang bersangkutan tak mengamalkan agamanya dengan sempurna, karena dia tidak rido dengan taqdir.