Beranda Sumsel Kejari OKU Bongkar Kembali Kasus 17 Tahun Lalu

Kejari OKU Bongkar Kembali Kasus 17 Tahun Lalu

64
0

Laporan Hafizul Ahkam

Muaraenim News, OKU -Tim dari Kejaksaan Negeri (Kejari) OKU dan Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sumsel, Selasa (13/11/2018) membongkar kembali kasus 17 tahun lalu.

Tim mengamankan mantan Camat Muaradua Kisam era 1998, Drs SM. Terpidana kasus korupsi ini divonis delapan bulan penjara pada 2001 oleh majelis hakim PN Baturaja. Tetapi, saat proses hukum terpidana tidak ditahan dan diduga ‘menghilang’ ketika proses hukum berjalan.

Kepala Kejari OKU, Bayu Pramesti, SH melalui Kasi Intel, Abunawas, SH didampingi Kasi Pidsus, Rionov Oktana Sembiring, SH mengatakan, mereka sudah lama mengintai terpidana. Puncaknya, Selasa (13/11) sekira pukul 16.30 WIB, tim mendatangi rumah terpidana Jl Taqwa, Sungai Selincah, Kecamatan Kalidoni, Palembang. “Tidak ada perlawanan dari yang bersangkutan. Langsung kami bawa ke kejati untuk diperiksa selanjutnya pemeriksaan kesehatan lalu menjalani hukuman di LP Pakjo,” ujar Abunawas.

Meski sudah 17 tahun, lanjut Abunawas, tidak membuat kasus ini dihentikan. Apalagi kasusnya adalah masalah korupsi dan yang bersangkutan sudah divonis majelis hakim.

“Sekarang yang bersangkutan ditahan dan menjalani hukuman penjara. Tidak ada istilah hangus. Apalagi yang bersangkutan sudah divonis,” tambah Abunawas yang juga didampingi Ari dodi, SH, Faris affy, SH dan Eral Fauzi, SH.

Kenapa baru sekarang? Mengapa tidak ditahan dari dulu sewaktu proses hukum? Dikatakan Abunawas, berkemungkinan waktu menjalani proses hukum yang bersangkutan ditangguhkan alias tidak ditahan. Namun proses hukum tetap jalan. “Setelah divonis yang bersangkutan harus menjalani hukuman.”

Kasusnya terjadi 1999, dimana waktu itu SM sebagai camat Muaradua Kisam (masih masuk Kabupaten OKU). Desa dilingkungan kecamatan Muaradua Kisam pada 1998 mendapat dana Jaring Pengaman Sosial (JPS) Rp 10 juta per desa. Jumlah desa yang dapat JPS 39 desa. Nah, saat proses pencairan masing masing desa mengalami pemotongan berkisar Rp 300.000 hingga Rp 600.000 oleh SM melalui stafnya.

“Kasusnya diproses hingga vonis. Memang yang bersangkutan sempat mengajukan grasi tapi ditolak oleh presiden,” tutup Abunawas, sembari menambahkan sewaktu peristiwa SM tinggal di Dusun Baturaja, Kecamatan Baturaja Timur.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here