“Dari Kota Kecil ke Puncak Livoli: Kisah Semangat PBV Bukit Asam yang Menembus Final Nasional”

Oleh: Hafizul Ahkam – Jurnalis Muara Enim
Sorak sorai penonton di Sport Center Lamongan pecah malam itu. Dari tribun tampak ribuan penonton berjubel, bendera dari berbagai daerah berkibar dengan bangga. Di antara lautan suporter itu, hanya segelintir wajah dari Muara Enim yang tampak — duduk berkelompok kecil, mengenakan kaos bertuliskan PBV Bukit Asam. Jumlah mereka memang tak banyak, tapi suara dukungan yang mereka teriakkan terasa paling lantang di tengah riuhnya arena.
Malam itu, PBV Bukit Asam resmi mencatat sejarah — tim voli asal bumi Serasan Sekundang menembus final hingga melaju ke Livoli Divisi Utama 2026.
Sebagai jurnalis yang mengikuti perjalanan tim ini sejak babak penyisihan, saya menyaksikan sendiri bagaimana mental dan kekompakan para pemain menjadi senjata utama. Bukan hanya soal teknik, tapi tentang jiwa petarung yang lahir dari tanah Muara Enim, dari keringat para pekerja tambang hingga semangat gotong royong yang tak pernah padam.
“Kami Berjuang Bukan untuk Nama, Tapi untuk Marwah Daerah”
Ketua PBV Bukit Asam, Erwin, tak kuasa menahan rasa haru setelah peluit panjang tanda kemenangan berbunyi.
«“Kami tidak hanya membawa nama klub, tapi juga marwah masyarakat Muara Enim dan PT Bukit Asam. Anak-anak ini membuktikan bahwa semangat, kerja keras, dan disiplin bisa membawa mereka ke puncak nasional,” ujar Erwin dengan mata berkaca-kaca.
“Final ini bukan akhir, tapi awal babak baru untuk voli Sumatera Selatan.”»
Ia menambahkan bahwa keberhasilan ini adalah hasil sinergi antara pembinaan berkelanjutan dan dukungan semua pihak, mulai dari manajemen, pelatih, hingga masyarakat yang tak pernah berhenti memberi semangat.
Pelatih: “Kami Tidak Punya Bintang, Tapi Kami Punya Hati”
Pelatih kepala Samsul Jais mengakui bahwa perjalanan ke final bukan tanpa tantangan.
«“Kami datang ke Livoli bukan sebagai unggulan. Banyak yang meremehkan karena nama-nama besar sudah menunggu. Tapi kami tidak pernah takut — kami tidak punya pemain bintang, tapi kami punya hati dan kebersamaan,” ujarnya sambil tersenyum lelah.»
Sementara itu, asisten pelatih Sapta Muslim menambahkan,
«“Yang saya lihat luar biasa adalah kekompakan anak-anak. Mereka saling menutupi, saling percaya, tidak ada ego. Itulah kunci kami menembus final. Kami hanya punya satu tujuan: membuat masyarakat Muara Enim bangga.”»
Kapten Tim Arif Budiman: Dari Semende ke Panggung Nasional
Bagi Arif Budiman, kapten tim asal Desa Segamit, Kecamatan Semende Darat Ulu, perjalanan ini terasa seperti mimpi yang menjadi nyata.
«“Saya lahir di kampung kecil di Semende, dan tak pernah terbayang bisa membawa tim ini ke final nasional. Ini bukan tentang saya, tapi tentang seluruh tim, pelatih, dan dukungan masyarakat Muara Enim yang tak pernah berhenti mendoakan,” kata Arif dengan suara bergetar.»
Ia juga menyampaikan bahwa kemenangan ini menjadi inspirasi bagi anak-anak muda di daerah agar terus berani bermimpi.
«“Kalau kami bisa sampai di sini, siapa pun bisa — asal mau berlatih, fokus, dan tidak menyerah.”»
Dukungan Kecil yang Menggema di Tengah Ribuan Penonton
Meski tanpa ribuan suporter yang biasanya memadati stadion, semangat PBV Bukit Asam tidak pernah surut.
Ari, salah satu warga Muara Enim yang rela datang jauh-jauh ke Lamongan untuk menyaksikan langsung, mengaku tak peduli meski hanya segelintir dari kampung halamannya yang hadir.
«“Kami cuma beberapa orang dari Muara Enim, tapi kami teriak sekeras-kerasnya. Lihat mereka berjuang sampai akhir, rasanya bangga sekali. Jumlah kami mungkin kecil, tapi semangatnya besar,” ujarnya sambil melambaikan bendera kecil bertuliskan ‘Bukit Asam Pride’.»
Sorakan kecil itu seolah menembus dinding ribuan suara di Sport Center Lamongan. Dan di mata para pemain, dukungan itu cukup untuk membuat mereka merasa tidak sendiri di tanah orang.
Catatan Jurnalis: Peluh, Doa, dan Harapan dari Bumi Serasan Sekundang
Di balik setiap poin yang diraih PBV Bukit Asam, ada peluh, air mata, dan harapan yang tumbuh di setiap sudut Muara Enim. Dari tribun Sport Center Lamongan hingga layar-layar kecil tempat warga menyaksikan dari jauh, terlihat wajah-wajah yang menitipkan kebanggaan mereka pada setiap servis dan smash yang menggelegar.
Final Livoli 2025 bukan hanya tentang perebutan gelar juara, tetapi tentang perjalanan panjang sebuah tim daerah yang menolak kalah oleh keterbatasan. Tentang anak-anak muda yang membuktikan bahwa asal-usul bukanlah penghalang untuk bermimpi tinggi.
Refleksi: Semangat yang Tak Boleh Padam
Kisah PBV Bukit Asam ini adalah cermin bagi generasi muda Muara Enim: bahwa kerja keras, disiplin, dan kebersamaan akan selalu berbuah manis. Di tengah derasnya arus modernisasi dan hiruk-pikuk kompetisi, mereka menunjukkan bahwa nilai-nilai sportivitas, loyalitas, dan cinta daerah tetap bisa menjadi dasar kejayaan.
Malam itu di Lamongan, mungkin hanya segelintir suporter yang bersuara untuk PBV Bukit Asam — tapi gema semangat mereka menggema jauh sampai ke Muara Enim. Karena kemenangan sejati bukan hanya milik mereka yang di lapangan, tapi milik seluruh masyarakat yang percaya bahwa mimpi dari tanah kecil pun bisa mengguncang panggung nasional.

Show More