Beranda Muara Enim BANDAR SRIWIJAYA POTENSI CAGAR BUDAYA NASIONAL DAN INTERNASIONAL

BANDAR SRIWIJAYA POTENSI CAGAR BUDAYA NASIONAL DAN INTERNASIONAL

21
0


Muaraenim News, OKI – Bupati Ogan Komering Ilir, H Iskandar SE melalui Kasubbag Media Komunikasi Publik Setda Pemkab OKI, Adiyanto SPd berharap pemerintah pusat dapat menetapkan kawasan Teluk Cengal sebagai cagar budaya dan pusat penelitian pariwisata, baik nasional maupun internasional. Hal itu setelah dilakukannya investigasi oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jambi, Senin (4/9/2017).

“Tim (BPCB) Jambi melihat sendiri penemuan benda-benda peninggalan Kerajaan Sriwijaya di Teluk Cengal. Mereka segera melaporkan (hasil investigasi) kepada pimpinannya (untuk diteruskan ke pemerintah pusat). Ke depan ada tim lain yang akan menindaklanjuti lokasi bandar (pelabuhan) Kerajaan Sriwijaya,” ungkapnya, Selasa (5/9/2017).

Menurutnya, masyarakat OKI menunggu arahan dari pemerintah pusat untuk menindaklanjuti agar ada pelindungan terhadap situs-situs di kawasan tersebut. Mengingat di lokasi tersebut banyak peninggalan arkeologis yang rusak dan hilang akibat kebakaran hutan dan lahan, penggalian liar, serta digunakannya lahan situs untuk perkebunan monokultur.  “Kami (Pemkab OKI)  siap jika kawasan Teluk Celuk dijadikan sebagai salah satu cagar budaya dan pusat penelitian pariwisata, baik nasional maupun internasional,” ungkapnya.

Novi Hariputranto, ketua tim investigasi BPCB Jambi mengatakan, penemuan emas dan perunggu tersebut mengisyarakatkan bahwa benar ada pemukiman penduduk yang dulunya menempati wilayah Teluk Cengal. “Setidaknya ada pemukiman bangsawan dahulunya di sini jika melihat hasil temuan ini. Kalau keramik itu dari luar, kalau gerabah itu dalam negeri. Ada jalur transaksi perdagangan di wilayah ini dahulu kala,” ungkapnya.

Diketahui, tim Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jambi bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ogan Komering Ilir (OKI) turun ke lokasi yang diduga sebagai pelabuhan utama Kerajaan Sriwijaya di Cengal, Senin (4/9). Tim BPCB Jambi terdiri dari tiga orang, yakni Novi Hari Putranto SS, Tarida Diami SS, dan Muchlisin,SPd.  Mereka masih kelelahan setelah menempuh perjalanan hingga 6 jam dari Jambi menuju Kayuagung. Tim investigasi juga didampingi Kasubbag Media Komunikasi Publik Adiyanto SPd, Kepala Dinas Pariwisata OKI Ifna Nurlela, Kabid Kebudayaan Nila Maryati.

Tim berangkat dari Kayuagung menuju Cengal tepat pukul 7.15 WIB. Perjalanan darat menuju Cengal membutuhkan waktu hingga tiga jam. Waktu ini relatif lebih cepat seiring sudah diperbaikainya ruas jalan Sepucuk sepanjang 38 km yang menghubungkan Kayuagung dengan Pedamaran Timur membelah hamparan lahan gambut. Perjalanan mulai terasa berat ketika melewati Jembatan Desa Kayulabu Kecamatan Pedamaran Timur. Jalan bergelombang dan berdebu membuat perjalanan sedikit tidak nyaman namun kami tetap terhibur menyaksikan hamparan gambut yang selama ini terbakar, tampak mulai dihijaukan rumputan liar dan pohon gelam serta melihat aktivitas warga setempat yang ber mata pencaharian utama dari kebun sawit dan karet.

Memasuki Kecamatan Cengal, perkebunan sawit berubah menjadi perkebunan karet. Perkebunan karet ini selain milik perusahaan, juga masyarakat.  Hampir setiap dusun juga ditemukan rumah walet, yang dicat hitam dan ukuran jendela dan pintunya yang kecil. Tiba di kantor camat tim disambut Gotot Holden. Tak lama berselang datang warga setempat bernama Ringgu Umang (40) atau yang dikenal warga setempat Siringgu. Ringgu tampak sudah akrab dengan para arkeolog dari BPCB Jambi. Wajar saja karena Ringgu adalah penghubung bagi orang luar yang akan melakukan penelitian atau sekadar berkunjung terkait penemuan benda sejarah di wilayah ini. “Sejak kebakaran hutan tahun 2015 lalu masyarakat di sini mencari peruntungan di lahan sana,” ujar Ringgu sambil menunjuk ke arah Pantai Timur.

Dijelaskannya, sejak tiga tahun ini katanya lagi warga di desa ini dihebohkan penemuan-penemuan benda berharga. Tahun 2015 lalu penemuan di wilayah Sungai Bagan, Kanal 12, Pulau Tengkoran Pulau Pisang dan Kemada beberapa situs di wilayah desa Ulak Kedondong Kecamatan Cengal. Baru-baru ini, tambahnya, ada penemuan lagi namun diwilayah yang berbeda, yaitu di Talang Petai Wilayah Desa Simpang Tiga Kecamatan Tulung Selapan. Bahkan kata dia, minggu lalu ada warga yang menemukan emas berbentuk keong namun sayangnya keong emas tersebut sudah dijual warga ke toko emas di Palembang.

Menuju lokasi Talang Petai membutuhkan waktu hampir dua jam dengan naik perahu menyusuri aliran sungai menuju arah Selat Bangka. Biaya sewanya mencapai Rp1 juta. “Sewa getek, berapa hari mau nginap di sana, sudah selesai nanti dijemput lagi” ungkap Ringgu.

Semakin penasaran, tim lalu diajak Ringgu berkunjung ke rumah Qori, pencari harta karun di Talang Petai. Menurut Ringgu, dari sekian banyak warga yang mendulang emas, Qori adalah yang paling sering beruntung. “Aku sudah berkali kali ke sana, namun tidak pernah dapat. Mungkin bukan peruntungannya,” ujarnya.

Tim berhenti di sebuah rumah panggung yang berada tepat di pinggir Sungai Cengal. Ringgu lalu memanggil si empunya rumah. Dari dalam terdengar sahuntan lalu keluarlah wanita paruh baya. Dia adalah Kusnaini, istri Qori.

“Baru saja bapak pergi berkarang (mencari emas),” ungkapnya sambil mempersilakan tim masuk. “Jangan khawatir, kalau mau lihat barang-barang temuannya ada,” ungkapnya sambil mencabut emas yang membalut jari manisnya.  “Ini salah satunya didapat suami saya dua hari lalu,” ungkapnya sambil menunjukkan cincin emas berlukisan bunga.

Cincin emas itu ditaksir memiliki kadar 9,58 gram lalu ditimbang beratnya 5,7 on. Kusnaini menceritakan cincin emas itu di dapat suaminya di Talang Petai Desa Simpang Tiga Abadi. Menurutnya dia belum berniat menjual cincin tersebut karena bentuknya yang indah. “Sayang Mas, kalau dijual. Ini saya mau simpan saja,” ungkapnya.

Usai berkunjung ke rumah Qori, tim diajak ke rumah Aliyung (50). Pria yang sehari-hari bekerja sebagai petani. Aliyung juga ikut melakukan pencarian harta karun seperti Qori namun dia sedikit kurang beruntung. “Ini yang saya temukan,” ungkapnya sambil memperlihatkan kayu berbentuk dayung, satu keramik Cina bercorak naga, ayam jantan dan rusa. Aliyung menceritakan benda-benda itu dia dapat di Talang Petai tiga hari yang lalu. Kayu berbentuk gayung, menurut dia, ditemukan dalam kubangan lumpur “Waktu saya ambil beratnya mencapai 20 kg, namun anehnya sekarang tampak kering dan ringan begini,” tuturnya.

Aliyung berharap pemerintah melalui Balai dapat menjaga lokasi penemuan benda-benda bersejarah ini dan meminta yang berwajib turut mengamankan situs bersejarah yang diduga merupakan bekas pelabuhan  Kerajaan Sriwijaya ini. “Kami yang sudah tua-tua ini hanya bisa meninggalkan sejarah. Sejarah leluhur itu tidak ternilai harganya. Kami berharap pemerintah turun langsung menyelamatkan situs bersejarah ini,” harapnya.

Penulis : Irawan
Editor   : Ahkam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here